Program Magister / S2

Manajemen dan Kebijakan Publik
Kelas Eksekutif Hybrid

Profil

Sekilas MMKP Kelas Hybrid

MMKP UGM merupakan program magister pertama di Indonesia yang secara spesifik berfokus pada kebijakan publik dan memberikan gelar yang khas, yaitu Master of Public Policy (MPP). Sejak berdiri pada tahun 1982, MMKP telah memainkan peran sentral dalam pengembangan keilmuan, praktik, dan kapasitas kelembagaan kebijakan publik di Indonesia. Sepanjang perjalanannya, program ini secara konsisten meraih akreditasi “A” (sangat baik) dalam setiap siklus akreditasi nasional.

Mulai tahun 2025, MMKP membuka Kelas Eksekutif Hybrid sebagai bagian dari komitmen untuk memperluas akses pendidikan pascasarjana berkualitas tinggi, khususnya bagi para profesional yang tengah berkarier di sektor publik, BUMN, perusahaan swasta, perguruan tinggi, dan NGO. Program ini membekali mahasiswa dengan tiga kompetensi utama—policy analyst, policy scientist, dan policy advocate—melalui kurikulum 67 SKS yang diselesaikan dalam empat semester, terdiri dari mata kuliah wajib dasar, wajib inti, pilihan, serta tugas akhir.

Berbeda dari MMKP kelas reguler di Yogyakarta yang menekankan project-based learning dan praktik lapangan melalui program internship, Kelas Eksekutif Hybrid difokuskan pada case-based learning dan penguatan kapasitas analitik mahasiswa melalui pelatihan dan workshop. Perkuliahan dilaksanakan pada malam hari (19.00–21.00 WIB) pada hari kerja, serta pukul 08.00–17.30 WIB pada akhir pekan, untuk memastikan fleksibilitas bagi peserta yang aktif bekerja. Sesuai namanya, kelas ini mengkombinasikan kegiatan pembelajaran di ruang kelas secara luring di Kampus Bulaksumur-Sleman dan Kampus UGM Jakarta (Jl. Saharjo, Jakarta Selatan), daring, dan hybrid (integrasi luring-daring) secara proporsional untuk mendukung efektivitas proses belajar.

Menjadi rujukan nasional dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan inovasi di bidang manajemen dan kebijakan publik di Indonesia.

  1. Mendidik analis, ilmuwan, dan advokat kebijakan yang kritis, inovatif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai publik.
  2. Mengembangkan penelitian dan inovasi di bidang manajemen dan kebijakan publik yang mendorong kemajuan bangsa dan responsif terhadap tuntutan global.

Mengintegrasikan sistem pendidikan, penelitian, dan pengembangan inovasi sebagai media pembelajaran dan pembentukan kompetensi bagi analis kebijakan, ilmuwan kebijakan, dan advokat kebijakan.

  1. Tersedianya lulusan dengan kecakapan dan kompetensi sebagai analis kebijakan (policy analysts);
  2. Tersedianya lulusan dengan kecakapan dan kompetensi sebagai advokat kebijakan (policy advocates).

Kompetensi Lulusan

  1. Mampu mengelola isu publik
  2. Mampu mengorganisasi aktivitas dan sumber daya
  3. Terampil membangun networking
  4. Mampu memimpin dan menawarkan perubahan
  5. Mampu memecahkan masalah
  6. Mampu menganalisis dan mengintepretasikan data kuanititatif dan kualitatif
  7. Mampu menganalisis publicpolicy
  8. Mampu melakukan advokasi untuk public policy dan perubahan sektor publik
  9. Mampu mengelola teknologi untuk pemecahan masalah
  10. Mampu mengartikulasikan nilai publik

Profil Lulusan

advanced divider

Policy Analyst

Memproduksi high-quality information dan rekomendasi bagi pemerintah untuk dapat merumuskan dan menerapkan kebijakan atau program yang efektif mengatasi permasalahan publik atau memenuhi kebutuhan publik.

  1. Analis kebijakan pada lembaga pemerintah (ASN)
  2. Think tank
  3. Organisasi internasional
  4. Foundations
  5. Private corporations
  6. BUMN
  7. Media (journalist)
  8. Partai politik.

Core skills and Competencies

  1. Publicness understanding
  2. Poilicy brief writing skills
  3. Policy analysis & creative problem solving
  4. Effective communication skills
  5. Strong organizational skills
  6. Collaborative mindset
  7. Sound ethical judgement
  8. (Advanced) Research methodology

Policy Advocate

Membantu kelompok masyarakat marginal baik melalui advokasi perubahan kebijakan pada arena pembuatan kebijakan maupun pendampingan langsung dalam memenuhi kebutuhan dan hak-hak mereka sebagai warga negara.

  1. Legislators
  2. Non-Governmental
  3. Organization activists
  4. Social workers
  5. Community organizers

Core skills and Competencies

  1. Publicness understanding
  2. Public issues analysis
  3. Policy analysis
  4. Lobbying advocacy
  5. Strong organizational skills
  6. Collaborative mindset
  7. Nonviolent conflict resolution & mediation
  8. Research methodology